Portalraya.com, Kutai Kartanegara – Metode penanaman padi dengan cara menebar benih langsung di kawasan Danau Semayang, Kutai Kartanegara (Kukar), kembali menjadi sorotan setelah ramai dibahas di media sosial.
Hal tersebut mencuat setelah Bupati Kukar Aulia Rahman Basri turut melakukan penebaran benih padi di kawasan Danau Semayang pada Selasa (1/9/2026).
Meski demikian, cara tersebut bukan hal baru bagi masyarakat setempat. Warga Desa Semayang diketahui telah lebih dulu memanfaatkan kawasan danau yang mengalami penyusutan untuk menanam padi, bahkan sebelum kegiatan penebaran benih bersama bupati dilaksanakan.
Tanaman padi yang ditanam warga kemudian terlihat melalui unggahan akun TikTok @juarni661 sekitar dua hari lalu. Dalam video tersebut, seorang warga Desa Semayang menunjukkan tanaman padi yang mulai tumbuh di kawasan Danau Semayang.
“Alhamdulillah mulai tumbuh. Dan luar biasa banyaknya nih,” ujar warga tersebut dalam video.
Dalam unggahan itu, warga berharap tanaman padi dapat dipanen sebelum ketinggian air danau kembali meningkat. Ia juga mengajak masyarakat yang penasaran dengan metode tersebut untuk datang langsung ke Desa Semayang.
Kepala Desa Semayang, Isra, membenarkan bahwa teknik menanam padi dengan menebarkan benih langsung di kawasan danau telah lama diterapkan oleh masyarakat.
“Setiap kemarau panjang, itu sudah kami lakukan. Kami sudah beberapa kali panen raya dengan cara seperti ini,” ujar Isra saat dikonfirmasi, Jumat (11/9/2026).
Ia menjelaskan, penyusutan air Danau Semayang akibat kemarau panjang membuat sejumlah bagian yang dangkal dapat dimanfaatkan warga sebagai lahan untuk bercocok tanam.
Berbeda dengan metode pertanian pada umumnya, benih padi tidak terlebih dahulu disemai. Warga langsung menaburkannya di area danau yang dianggap cocok untuk ditanami dengan mempertimbangkan kondisi air.
“Tidak langsung disemai, langsung ditabur di danau. Tapi kami juga tidak sembarang menabur. Kami melihat kondisi air, terutama di tempat yang dangkal,” ujarnya.
Menurut Isra, kedalaman air di lokasi yang digunakan untuk menebar benih biasanya berada di kisaran 3 hingga 5 sentimeter. Berdasarkan pengalaman masyarakat, metode tersebut telah terbukti mampu menghasilkan panen.
Bahkan pada 2007 lalu, warga Desa Semayang disebut sempat melakukan panen raya sebanyak dua kali.
Isra menambahkan, kondisi air Danau Semayang yang menyusut karena kemarau panjang tidak terjadi setiap tahun. Fenomena tersebut biasanya berlangsung dalam siklus sekitar 10 tahun.
Untuk penanaman tahun ini, masyarakat menargetkan panen raya pada November 2026, dengan catatan kondisi kemarau masih berlangsung.
“Kalau kemarau sampai dua atau tiga bulan lagi, insyaallah kita akan panen raya. Bulan 11 sudah panen raya,” katanya.
Sementara dalam kegiatan penebaran benih bersama bupati, total benih padi yang disiapkan mencapai sekitar 1,2 ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 750 kilogram merupakan bantuan dari bupati, sedangkan kurang lebih 500 kilogram lainnya berasal dari Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA).
Isra pun mengajak masyarakat yang masih meragukan keberhasilan metode tersebut untuk datang dan melihat langsung kondisi tanaman padi yang tumbuh di kawasan Danau Semayang.
“Kalau memang kurang meyakinkan, datang saja ke Semayang. Lihat langsung padi yang ditebar itu bisa tumbuh dengan baik dan bisa panen,” Pungkasnya. (Ita)
