Portalraya.com, Kutai Kartanegara – Pemadaman listrik yang melanda sejumlah wilayah di Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), Senin (26/10/2026), menuai protes warga. Listrik yang dijadwalkan padam pukul 18.00–22.00 Wita dilaporkan kembali menyala sekitar pukul 20.10 Wita, tidak lama setelah warga bersama Aliansi Ormas Tiga Daerah mendatangi kantor PLN ULP Tenggarong untuk menyampaikan keluhan.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan warga mengenai penyebab pemadaman dan alasan pasokan listrik kembali menyala sebelum jadwal berakhir. Namun, belum ada keterangan yang memastikan apakah pulihnya pasokan listrik tersebut berkaitan langsung dengan kedatangan warga ke kantor PLN.
Wilayah yang terdampak pemadaman antara lain Jalan Pesut, Jalan Danau Aji, Jalan Gunung Menyapa, Jalan Jelawat, dan sejumlah kawasan di sekitarnya.
Ketua Harian Aliansi Ormas Tiga Daerah, Jordi, mengatakan masyarakat resah karena pemadaman disebut terjadi berulang kali dalam sehari. Kondisi itu dikhawatirkan berdampak pada aktivitas warga serta menimbulkan kerusakan pada peralatan elektronik dan instalasi listrik rumah tangga.
“Kami sangat kecewa dengan PLN. Pagi listrik mati, kemudian menyala, siang mati lagi, sampai sore, dan malam kembali padam. Masyarakat resah karena pemadaman bisa terjadi sampai tiga kali sehari,” ujar Jordi.
Ia menyebut sejumlah warga mengeluhkan kerusakan peralatan elektronik, seperti kulkas, AC, televisi, dan telepon seluler. Menurutnya, keluhan tersebut perlu mendapat perhatian dan penjelasan dari PLN, terutama mengenai penyebab gangguan serta upaya pencegahannya.
Jordi juga menyoroti kekhawatiran masyarakat terhadap risiko korsleting dan kebakaran. Ia menyinggung sejumlah kejadian kebakaran di Tenggarong yang menurutnya diduga berkaitan dengan korsleting listrik. Meski demikian, penyebab setiap kejadian kebakaran tetap perlu merujuk pada hasil penyelidikan pihak berwenang.
Menanggapi keluhan masyarakat, Manajer Umum PLN ULP Tenggarong, Dwi Haryadi, menjelaskan bahwa gangguan pasokan listrik sebelumnya disebabkan kendala pada sejumlah pembangkit, baik karena penurunan kemampuan operasi maupun pemeliharaan.
Dwi mengatakan pihaknya belum dapat memastikan kapan kondisi kelistrikan secara keseluruhan kembali normal. Informasi teknis mengenai kondisi pembangkit dan kepastian pemulihan pasokan, menurutnya, menjadi kewenangan manajemen PLN pada tingkat yang lebih tinggi.
“PLN ULP lebih banyak menangani pelayanan pelanggan, sedangkan informasi teknis mengenai kondisi pembangkit berada di tingkat manajemen yang lebih tinggi,” jelas Dwi.
Terkait kebakaran yang diduga disebabkan korsleting listrik, Dwi menegaskan bahwa PLN tidak dapat langsung menyimpulkan penyebab kejadian tanpa hasil penyelidikan. Penentuan penyebab kebakaran, kata dia, harus mengacu pada pemeriksaan pihak berwenang, khususnya kepolisian.
Mengenai laporan kerusakan peralatan elektronik dan kerugian masyarakat, termasuk laporan peternak mengenai kematian ratusan ayam, Dwi menyebut ketentuan kompensasi telah diatur. Namun, ia belum dapat menjelaskan secara terperinci persyaratan dan mekanisme pengajuannya karena hal tersebut perlu dikonfirmasi kepada manajemen PLN yang berwenang.
Ia menambahkan, gangguan kelistrikan tidak hanya terjadi di Tenggarong, tetapi juga berdampak pada sejumlah wilayah di Kalimantan. Karena itu, penanganan gangguan tersebut memerlukan koordinasi pada tingkat manajemen yang lebih tinggi.
PLN turut mengimbau masyarakat untuk menggunakan listrik secara bijak dan memastikan peralatan yang berpotensi menimbulkan bahaya dalam kondisi aman sebelum meninggalkan rumah. (Ita)
