19 Pompa Air untuk Kukar, Bupati Dorong Antisipasi Gagal Panen dan Karhutla

Portalraya.com, Kutai Kartanegara – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menerima bantuan 19 unit pompa air sebagai langkah menghadapi dampak musim kemarau, terutama untuk mengatasi kekeringan yang mengancam lahan pertanian serta mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan, bantuan tersebut disalurkan melalui BPBD Provinsi Kalimantan Timur sebelum diteruskan kepada BPBD Kukar. Dari total 19 unit pompa air, sebanyak 11 unit telah diterima dan didistribusikan ke sejumlah lokasi yang membutuhkan.

“Untuk jangka pendeknya kita optimalkan untuk penanganan karhutla di sekitar daerah Kutai Kartanegara. Untuk jangka panjangnya, pompa ini kita persiapkan untuk pengairan di sawah-sawah,” kata Aulia usai penyerahan pompa air di Kantor BPBD Kukar, Jumat (11/9/2026).

Menurut Aulia, Kukar masih memiliki sejumlah sumber air yang dapat dimanfaatkan. Namun, sebagian sumber air tersebut berada cukup jauh dari kawasan persawahan. Karena itu, pompa air akan digunakan untuk mengalirkan air menuju lahan pertanian.

Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga tanaman padi yang saat ini berada dalam berbagai tahap pertumbuhan, termasuk tanaman yang sebagian sudah memasuki masa menjelang panen.

Selain dimanfaatkan untuk menghadapi kekeringan, pompa air tersebut juga dapat digunakan saat curah hujan kembali meningkat. Air yang berada di kawasan persawahan nantinya dapat dialirkan menuju embung, void, maupun sungai di sekitar lahan untuk membantu mengurangi potensi genangan.

“Kita berharap dengan adanya bantuan pompa ini ketika curah hujan tinggi juga bisa mengatasi air, dengan menarik air dari titik-titik tertentu untuk dikembalikan ke penampungan besar, baik embung, void maupun sungai yang ada di sekitar persawahan,” ujarnya.

Di sisi lain, Pemkab Kukar terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan karhutla di sejumlah wilayah. Aulia menyebut Kecamatan Muara Badak menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus karena lokasi kebakaran berada dekat dengan pipa serta fasilitas pembangkit listrik tenaga gas (PLTG).

Penanganan kebakaran juga dilakukan di Kecamatan Muara Kaman dan Kota Bangun. Berdasarkan hasil pemantauan pemerintah daerah, kebakaran di kedua wilayah tersebut telah berhasil dipadamkan. Sementara itu, di Muara Badak, operasi water bombing yang dilakukan selama dua hari dilaporkan berhasil mengendalikan api.

Penanganan karhutla melibatkan berbagai pihak, mulai dari BPBD, Damkar, pemerintah kecamatan, relawan, TNI, Polri, hingga sejumlah badan usaha. Pemkab Kukar juga telah membentuk tim terpadu di setiap kecamatan yang dikoordinasikan oleh camat bersama Forkopimcam.

Penanganan awal dilakukan oleh tim di tingkat kecamatan. Apabila kondisi kebakaran tidak dapat ditangani, dukungan personel maupun peralatan dari tingkat kabupaten akan dikerahkan.

Terkait dugaan pembakaran lahan yang dilakukan secara sengaja, Aulia menegaskan Pemkab Kukar mendukung proses hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pelanggaran.

“Kalau dilakukan dalam proses kesengajaan, langkah-langkah hukum sebagaimana mestinya akan kita dorong. Karena effort untuk memadamkan api itu sangat besar,” tegasnya.

Kekeringan Picu Gagal Panen

Dampak kekeringan juga dirasakan oleh para petani di Desa Persiapan Loa Duri Seberang, Kecamatan Loa Janan. Salah seorang petani, Milianus Lingansera, mengatakan sekitar tujuh hektare lahan pertanian mengalami gagal panen akibat keterbatasan pasokan air.

Menurutnya, kondisi tersebut dialami oleh sekitar 20 petani yang menanam padi pada April, terutama petani dengan waktu tanam yang lebih lambat.

“Ada sekitar tujuh hektare yang gagal panen. Ada sekitar 20-an petani yang tidak mendapatkan hasil karena kekeringan,” kata Milianus.

Ia berharap bantuan pompa air tersebut dapat membantu mengatasi persoalan pengairan di kawasan pertanian sehingga kejadian serupa tidak kembali terulang pada musim tanam berikutnya.

“Dengan adanya pompa ini, mudah-mudahan ke depannya tidak terulang lagi seperti yang kita alami sekarang,” ujarnya.

Aulia mengatakan Pemkab Kukar juga mulai melakukan pemetaan terhadap sumber air serta kebutuhan infrastruktur pengairan di berbagai kawasan pertanian. Menurutnya, setiap kawasan memiliki persoalan yang berbeda, mulai dari ketersediaan pompa hingga kondisi saluran irigasi.

“Ke depan memang tindakan-tindakan yang akan kita lakukan adalah bagaimana mengantisipasi ketika hal-hal seperti ini terjadi kembali. Kita sudah memastikan mapping sumber air dan kebutuhan di masing-masing kawasan pertanian,” katanya.

Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan di Kukar sekaligus mengurangi risiko gagal panen apabila musim kemarau panjang kembali terjadi.(Ita)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *