Portalraya.com, KUKAR – Desa Ponoragan di Kecamatan Loa Kulu tengah berjuang memulihkan kembali denyut ekonomi setelah banjir merusak sebagian besar kolam pembibitan ikan air tawar.
Sebagai sentra bibit terbesar di Kalimantan Timur, kondisi ini tidak hanya menghambat produktivitas lokal, tetapi juga mengancam rantai pasok benih untuk wilayah sekitarnya.
Kerusakan kolam tak hanya berdampak fisik. Yang lebih krusial adalah hilangnya indukan ikan berkualitas, yang menjadi fondasi utama usaha pembibitan.
Kepala Desa Ponoragan, Sarmin, menegaskan bahwa pemulihan tidak akan berarti jika tidak dimulai dari penyediaan indukan unggul.
“Kami ini petani pembudidaya. Yang kami butuhkan adalah induk, terutama induk yang berkualitas. Bukan hanya induk lokal, tapi benar-benar induk unggul,” tegasnya, Jumat (16/5/2025).
Sarmin menguraikan bahwa kualitas induk sangat menentukan hasil bibit. Jika induk lemah, maka bibit yang dihasilkan akan ikut menurun kualitasnya, dan itu berisiko merugikan pembudidaya di tahap berikutnya.
“Induk berkualitas akan menghasilkan anakan atau bibit yang juga berkualitas. Ini penting agar tidak merugikan pembudidaya pembesaran di hilir,” jelasnya.
Di Ponoragan, kegiatan pembibitan diorganisasi oleh dua gapoktan besar yang mengelola kolam di berbagai titik. Namun, bencana banjir telah menghentikan operasional mereka secara total, membuat petani kehilangan sumber produksi utama.
“Kolam-kolam ini dikelola oleh kelompok-kelompok yang tergabung dalam dua gapoktan,” ujar Sarmin lagi.
Sebagai langkah konkret, pemerintah desa telah mengajukan permintaan bantuan ke berbagai tingkatan, mulai dari kabupaten hingga kementerian. Tujuannya agar pemulihan tidak terhambat birokrasi yang panjang.
“Dengan adanya musibah banjir seperti ini, mau tidak mau, suka tidak suka, kami harus minta bantuan. Khususnya kepada Dinas Perikanan dan Kelautan, baik di tingkat kabupaten, provinsi, bahkan kementerian,” ucapnya.
Sarmin berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian serius terhadap keberlanjutan produksi bibit di desa tersebut. Ia menyebut, jika tak segera ditangani, akan muncul efek domino terhadap sektor perikanan air tawar di Kaltim.
“Harapan saya tidak muluk-muluk. Yang penting ada perhatian dari pemerintah daerah dan OPD terkait, karena desa kami merupakan penghasil bibit ikan air tawar terbesar di Kalimantan Timur,” tutupnya. (Adv/Diskominfo Kukar)
