Portalraya.com, Kukar – Di balik gemerlapnya panggung dan kemeriahan Kirab Budaya Kukar Festival Budaya Nusantara (KFBN) 2025 Tenggarong, 19 Juli 2025, ada cerita lain yang tak kalah penting: denyut kehidupan para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menggantungkan harapan mereka pada setiap keramaian yang terjadi di kota ini.
Salah satunya adalah Suprayono, seorang pelaku UMKM lokal yang sehari-hari berjualan di kawasan Basket, Kelurahan Timbau, Tenggarong. Ia dengan semangat menyampaikan betapa besar dampak positif yang ia rasakan dari acara budaya seperti KFBN.
“Alhamdulillah, kalau menurut saya, acara seperti ini sangat bagus. Kalau di Tenggarong ada kegiatan seperti ini, dampaknya terasa langsung bagi kami pelaku UMKM,” ujarnya saat ditemui di area acara.
Biasanya, Suprayono hanya berjualan pada sore hari, mengandalkan keramaian warga yang datang ke kawasan Basket. Namun, dengan adanya event yang berlangsung sejak pagi, ia dan para pedagang kecil lain bisa mulai membuka lapak lebih awal—dan tentu saja, pendapatan pun ikut bertambah.
“Alhamdulillah, pendapatannya lumayan. Bisa buat tambahan belanja rumah, syukur-syukur bisa ditabung juga,” tambahnya.
Dalam kesempatan kali ini, Suprayono mendapatkan fasilitas berupa tenda berjualan. Ia mengaku merupakan bagian dari komunitas pengelola ‘Tenda Putih’, kelompok yang biasa menyediakan sarana berjualan untuk pelaku UMKM saat ada event-event besar di Kukar. Keberadaan tenda itu membuat para pedagang lebih tertata dan memiliki tempat yang layak untuk menjajakan dagangannya.
Namun, di balik kegembiraan itu, Suprayono juga menyampaikan harapan dan suara hati yang mewakili ribuan pelaku usaha kecil lainnya.
“Harapan saya, semoga ke depan Bupati yang baru bisa mewujudkan janjinya, seperti mengadakan konser sebulan sekali. Kayak kemarin itu kan ada musisi dari luar, harapannya bisa ada lagi. Soalnya acara seperti itu sangat membantu kami pelaku UMKM untuk menambah penghasilan,” ungkapnya penuh harap.
Ia merujuk pada program hiburan dan pertunjukan musik yang sebelumnya sempat diselenggarakan di Tenggarong dan mendatangkan antusiasme luar biasa dari masyarakat. Bagi pelaku UMKM, acara besar semacam itu bukan hanya hiburan, melainkan kesempatan ekonomi.
“Kalau ada acara besar, dagangan pasti ramai. Yang penting ada kerumunan, kami bisa ikut jualan. Bagi kami, itu sudah rezeki,” katanya.
Di sisi lain, Suprayono menyayangkan belum adanya tindak lanjut nyata dari program bantuan pemerintah daerah kepada UMKM. Meskipun pernah ada pendataan oleh instansi terkait, hingga kini ia mengaku belum menerima bantuan atau pembinaan secara konkret.
“Setahu saya, kami cuma pernah didata saja. Tapi katanya itu cuma buat pendataan pelaku UMKM, belum ada kelanjutannya atau bantuan nyata. Kami masih menunggu,” keluhnya.
Ia menekankan bahwa pelaku UMKM bukan sekadar pedagang kaki lima biasa. Mereka adalah tulang punggung ekonomi lokal yang mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat kelas bawah jika diberikan ruang, dukungan, dan pembinaan yang tepat.
KFBN 2025 telah memberikan secercah harapan kepada para pelaku usaha kecil seperti Suprayono. Event budaya dan hiburan bukan hanya soal estetika dan pariwisata, tapi juga menjadi sarana nyata pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dengan menghadirkan pengunjung dari berbagai daerah, acara seperti ini membuka peluang baru bagi UMKM untuk memperluas pasar dan meningkatkan pendapatan.
Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara diharapkan mampu melihat peran strategis UMKM dalam pembangunan ekonomi daerah. Selain menyelenggarakan event secara rutin, penting pula untuk menindaklanjuti program pendataan dengan bantuan modal, pelatihan usaha, kemudahan perizinan, dan fasilitas pemasaran digital.
“Kami nggak butuh yang mewah-mewah. Cukup diberi kesempatan, tempat, dan acara rutin. Sisanya kami yang usaha sendiri. Karena kami percaya, kalau Kukar ramai acaranya, rakyat kecil juga ikut hidup”. (Silvi)
