Portalraya.com, Kukar– Semangat kebangsaan kembali berdenyut kuat dari Sangasanga, kota bersejarah yang dikenal sebagai “Kota Juang”. Ribuan masyarakat memadati Lapangan Taman Palagan, Selasa pagi (27/01/2026), dalam Upacara Parade Peringatan Peristiwa Perjuangan Merah Putih ke-79 yang dirangkai dengan pertunjukan kolosal Operet Merah Putih.
Kegiatan yang menjadi puncak rangkaian peringatan perjuangan rakyat Sangasanga ini dihadiri Wakil Gubernur Kalimantan Timur Ir. H. Seno Aji, M.Si, Wakil Bupati Kutai Kartanegara Rendi Solihin, jajaran Forkopimda Provinsi Kalimantan Timur dan Kabupaten Kutai Kartanegara, tokoh masyarakat, pelajar, serta berbagai elemen organisasi kemasyarakatan.
Dalam amanatnya, Wakil Gubernur Kaltim menegaskan bahwa nilai-nilai perjuangan yang lahir dari bumi Sangasanga harus terus diaktualisasikan agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Ia menekankan bahwa perjuangan generasi masa kini tidak lagi diwujudkan melalui perlawanan fisik, melainkan melalui kontribusi nyata dalam menjaga persatuan, memperkuat solidaritas sosial, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
“Peristiwa Merah Putih adalah refleksi keteguhan rakyat dalam mempertahankan martabat bangsa. Nilai keberanian, pengorbanan, dan kesetiaan terhadap cita-cita kemerdekaan tidak boleh berhenti sebagai narasi sejarah, tetapi harus hidup dalam perilaku dan kebijakan kita hari ini,” ujar Seno Aji.
Ia juga menyoroti tantangan strategis yang dihadapi bangsa, mulai dari percepatan transformasi digital, potensi fragmentasi sosial, isu lingkungan hidup, hingga penguatan integrasi kebangsaan.
Dalam konteks tersebut, Kalimantan Timur dinilai memiliki posisi strategis sebagai wilayah penyangga pembangunan nasional dengan modal sosial dan sejarah perjuangan yang kuat.
“Kaltim bukan sekadar wilayah strategis, tetapi juga memiliki warisan nilai perjuangan yang menjadi fondasi moral dalam membentuk generasi emas Indonesia,” lanjutnya.
Perhatian publik turut tertuju pada pertunjukan kolosal Operet Merah Putih yang dibawakan pelajar dan seniman lokal. Pertunjukan ini menggambarkan heroisme rakyat Sangasanga melawan penjajahan Belanda, termasuk semangat Perlawanan Rakyat Indonesia (PRI) yang menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan Kalimantan Timur.
Rangkaian peringatan tahun ini dirancang inklusif dengan melibatkan partisipasi masyarakat melalui berbagai kegiatan, seperti Gowes Merah Putih, doa bersama lintas elemen, pameran UMKM lokal, Festival Kota Juang, serta peresmian Patung Ir. Soekarno sebagai simbol pengakuan atas peran strategis Sangasanga dalam sejarah bangsa.
Lebih dari sekadar agenda tahunan, Peringatan Peristiwa Merah Putih menjadi refleksi identitas kolektif masyarakat Sangasanga sebuah pengingat bahwa dari daerah kecil ini, api perjuangan pernah menyala dan terus dijaga agar tetap hidup dalam denyut pembangunan masa depan.(Silvi)
