Portalraya.com, Kutai Kartanegara – Festival Erau Adat Kutai 2026 di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mendapat perhatian lebih dalam hal penyelenggaraan setelah ditetapkan masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026.
Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 merupakan program strategis Kementerian Pariwisata yang bertujuan mempromosikan potensi daerah, budaya, serta ekonomi kreatif melalui 125 event unggulan dari 38 provinsi di Indonesia.
Status Erau sebagai bagian dari KEN membuat sejumlah aspek penyelenggaraan menjadi perhatian panitia. Hal itu meliputi pengelolaan sampah, mitigasi risiko bencana, dampak kegiatan terhadap pelaku UMKM, hingga ketersediaan informasi dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Hal tersebut disampaikan Pangeran Notonegoro Heriansyah saat mengikuti rapat final pelaksanaan Erau Adat Kutai 2026 di Sekretariat Panitia Erau, Eks Gedung Wanita, Selasa (15/9/2026).
Heriansyah menjelaskan, masuknya Erau dalam KEN membuat pelaksanaan tahun ini tidak hanya menitikberatkan pada kelancaran rangkaian adat dan seremonial. Panitia juga harus memenuhi standar serta target penyelenggaraan event yang telah ditetapkan oleh kementerian.
“Erau tahun ini sudah masuk Karisma Event Nusantara. Tentu standar pelaksanaannya itu sudah mesti diperhatikan. Ada standar-standar tertentu dan target tertentu yang diminta oleh kementerian,” kata Heriansyah.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pengelolaan sampah selama rangkaian kegiatan. Selain itu, panitia juga diminta menyiapkan langkah mitigasi untuk menghadapi kemungkinan bencana maupun kondisi darurat.
Dampak ekonomi terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga menjadi bagian yang diperhatikan. Heriansyah menyebut manfaat ekonomi yang dihasilkan dari penyelenggaraan Erau perlu dapat diukur.
Tidak hanya itu, aspek komunikasi turut dipersiapkan agar informasi mengenai kegiatan dapat diakses oleh pengunjung dari luar daerah hingga wisatawan mancanegara.
“Dalam proses pelaksanaan juga jangan hanya satu bahasa. Ada dua bahasa nanti yang bisa diakses atau diterjemahkan oleh pihak luar, terutama bahasa Indonesia dan bahasa Inggris,” ujarnya.
Sementara dari sisi kesiapan fisik, Heriansyah menyebut persiapan untuk rangkaian sakral Erau telah mencapai sekitar 90 persen. Sejumlah prosesi pra-Erau juga sudah dilaksanakan, termasuk ziarah ke makam para raja dan sultan di kompleks Museum Mulawarman dan Kutai Lama serta prosesi Besawai.
Meski penyelenggaraan Erau kini mengikuti standar event nasional, berbagai tradisi sakral Kesultanan Kutai Kartanegara tetap dipertahankan. Salah satunya adalah pantangan Sultan Kutai Kartanegara Aji Muhammad Arifin untuk menginjakkan kaki langsung ke tanah selama masa betuhing.
Sultan menjelaskan, pantangan tersebut berlaku sejak Pinang Ayu didirikan hingga rangkaian prosesi adat selesai dan Pinang Ayu kembali direbahkan. Selama masa itu, Sultan menggunakan kain kuning sebagai pijakan saat menuju istana.
“Dari istana, di Kedaton Museum, sampai berakhirnya Pinang Ayu dirobohkan, baru kita bisa menginjak tanah. Jadi selama ini kalau kita ke istana pakai kain kuning, lewatnya di situ,” jelas Sultan.
Menurut Sultan, ketentuan tersebut merupakan bagian dari adat yang diwariskan secara turun-temurun sejak zaman leluhur dan masih dijaga hingga saat ini.
“Memang sudah namanya adat, kita tidak bisa mengubah. Sudah dari zaman bahari, nenek moyang kita, sampai sekarang ini masih terpakai sampai anak cucu kita,” ujarnya.
Dengan berbagai persiapan tersebut, Festival Erau Adat Kutai 2026 dijadwalkan berlangsung pada 20–27 September. Panitia menargetkan pelaksanaan dapat memenuhi standar KEN tanpa mengesampingkan nilai adat dan tradisi yang menjadi bagian utama dari Erau. (Ita)

