Tradisi Belimbur Warnai Puncak Erau 2026, Ahmad Yani: Air Jadi Simbol Keberkahan dan Sumber Kehidupan

Portalraya.com, Kutai Kartanegara – Tradisi Belimbur menjadi penutup rangkaian puncak Erau Adat Kutai 2026 yang berlangsung di Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), Minggu (27/9/2026) pagi.

Prosesi saling menyiram air tersebut berlangsung meriah setelah Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura mengawali Belimbur dengan memercikkan Air Tuli kepada masyarakat.

Antusiasme warga terlihat di kawasan sekitar Museum Mulawarman yang dipadati masyarakat untuk mengikuti puncak perayaan Erau. Suasana semakin semarak dengan guyuran air serta semprotan dari kendaraan pemadam kebakaran yang membasahi warga di sekitar lokasi.

Ketua DPRD Kukar Ahmad Yani mengatakan, Belimbur menjadi salah satu penanda berakhirnya rangkaian pelaksanaan Erau setelah berbagai prosesi adat dilaksanakan.

“Alhamdulillah, tadi sudah dimulai dengan percikan air oleh Sultan dan hampir semua terkena. Kemudian semprotan dari mesin, Damkar dan sebagainya juga sudah terhambur semua,” kata Ahmad Yani.

Menurutnya, Belimbur bukan hanya menjadi bagian dari kemeriahan pesta adat, tetapi juga mengandung makna tentang keberkahan, kebahagiaan hingga penyucian diri.

Ia memandang air yang digunakan dalam prosesi Belimbur sebagai simbol kehidupan yang harus dijaga dan memiliki peran penting bagi masyarakat.

“Bahwa itu adalah bukti keberkahan, bukti kebahagiaan. Mari kita menyucikan diri, mari kita berpesta, dan mengakhiri pesta ini dengan kebaikan dan kesucian,” ujarnya.

Ahmad Yani juga mengajak masyarakat untuk tidak melihat air hanya sebagai bagian dari kemeriahan prosesi Belimbur. Ia menekankan bahwa air merupakan sumber kehidupan yang perlu dijaga dan diperlakukan sebagai bagian dari kehidupan bersama.

“Mari kita menjadikan air adalah sahabat, mari kita menjadikan air adalah sumber kehidupan kita,” tuturnya.

Sebagai penutup rangkaian puncak Erau Adat Kutai 2026, Belimbur dilaksanakan setelah sejumlah prosesi adat, yakni Mengulur Naga, Beumban dan Begorok. Rangkaian tersebut kemudian dilanjutkan dengan Tempong Tawar serta pemercikan Air Tuli sebagai tanda dimulainya prosesi Belimbur. (Ita)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *