Portalraya.com, Kutai Kartanegara – Seluang Mudik Belimbur Beras menjadi salah satu prosesi adat yang digelar dalam rangkaian Erau Adat Kutai 2026. Prosesi tersebut berlangsung pada malam keenam Bepelas di Keraton/Museum Mulawarman, Tenggarong, Sabtu (26/9/2026) malam.
Seluang Mudik Belimbur Beras merupakan bagian dari adat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang terus dilaksanakan secara turun-temurun dalam setiap penyelenggaraan Erau.
Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Aulia Rahman Basri mengatakan, prosesi Seluang Mudik merupakan salah satu rangkaian Erau Adat Kutai yang penyelenggaraannya dilakukan oleh pihak Kesultanan.
“Penyelenggara dari kegiatan ini adalah pihak Kesultanan sendiri, sehingga sakralitas dari kegiatan ini bisa kita jamin keberadaannya,” kata Aulia.
Ia berharap pelestarian adat dan budaya Kutai dapat terus dilanjutkan sebagai bagian dari kekayaan budaya yang dimiliki Kabupaten Kutai Kartanegara.
Pamong Budaya Ahli Muda sekaligus Sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Disdikbud Kukar, Muhammad Saidar, menjelaskan Seluang Mudik Belimbur Beras memiliki makna sebagai ungkapan rasa syukur Sultan kepada masyarakat yang hadir dalam rangkaian Erau.
Menurut Saidar, prosesi tersebut menjadi bagian dari alur adat Bepelas yang telah diwariskan secara turun-temurun. Pelaksanaannya diawali dengan Tari Kanjar yang terdiri dari Kanjar Bini dan Kanjar Laki.
Usai tarian, rangkaian dilanjutkan dengan Njukuk Buah Bawal, yaitu prosesi memperebutkan kue yang sebelumnya telah digantung. Setelah itu, dilakukan Besawai yang dipimpin oleh pawang atau sesepuh.
Prosesi kemudian memasuki tahap penaburan beras Sri Weja Kuning yang menjadi tanda dimulainya Belimbur Beras.
Sultan, kerabat Kesultanan hingga para tamu kemudian turut mengikuti prosesi dengan saling melempar beras. Suasana semakin meriah hingga akhirnya alunan gamelan perlahan berhenti.
Saidar menegaskan, penggunaan beras dalam ritual tersebut bukan sekadar kegiatan menghamburkan beras, tetapi memiliki kedudukan sebagai bagian dari adat dan budaya Kesultanan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Ini adat, budaya Kesultanan. Yang benar-benar sudah turun-temurun,” kata Saidar.
Ia menyebutkan, beras yang digunakan dalam prosesi tidak memiliki jenis khusus. Beras tersebut disiapkan oleh pihak Kesultanan sebagai simbol dalam ritual adat, dengan jumlah sekitar dua karung.
Saidar menambahkan, sebagian masyarakat yang mengikuti prosesi juga menyimpan beras tersebut. Makna yang diberikan terhadap beras dalam ritual itu dapat berbeda bagi setiap orang, termasuk berkaitan dengan kepercayaan yang berkembang di tengah masyarakat.
Lebih lanjut, Saidar menilai pengenalan tradisi Erau kepada generasi muda menjadi hal penting agar mereka memahami berbagai rangkaian adat Kesultanan Kutai. Keterlibatan peserta didik dalam sejumlah kegiatan Erau pun dilakukan sebagai upaya mengenalkan berbagai tahapan adat, mulai dari Beluluh, Bepelas hingga Belimbur.
“Budaya ini biar mereka mengenal. Apalagi peserta didik, anak-anak sekolah, agar mereka mengenal inilah adat budaya Kesultanan,” pungkasnya. (Ita)
