Portalraya.com, Kukar– Di tengah tantangan globalisasi dan derasnya arus budaya populer, Rumah Budaya Kutai (RBK) hadir sebagai oase pembelajaran alternatif yang menempatkan kebudayaan lokal sebagai fondasi pembentukan karakter generasi muda. Berdiri sejak akhir 2017 hingga awal 2018, bertepatan dengan lahirnya Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan, RBK menjadi ruang kolektif yang terbuka bagi pelajar, seniman, dan masyarakat umum untuk belajar, berbagi, dan bertumbuh bersama. Rabu, (04/02/2026).
RBK lahir dari kegelisahan para pegiat seni dan budaya Kutai Kartanegara terhadap minimnya ruang pembinaan karakter dan kebudayaan, khususnya bagi anak-anak dan remaja. Rumah budaya ini dirintis oleh sejumlah tokoh dan penggerak budaya, di antaranya almarhum Kabudi, Erwan dari Kukar Kreatif, Triandi, Iyun, serta tokoh-tokoh budaya lainnya.
Sejak awal, RBK dirancang bukan sebagai lembaga formal, melainkan komunitas yang berfungsi memfasilitasi, menyambungkan, dan merajut ekosistem kebudayaan agar tumbuh secara alami dan inklusif.
Rahmat Effendi, narasumber dari Rumah Budaya Kutai, menjelaskan bahwa RBK mengusung prinsip keterbukaan. “RBK ini terbuka. Siapa pun boleh datang, baik pelajar, seniman, maupun masyarakat umum yang ingin belajar atau berbagi,” ujarnya.
Sejalan dengan semangat tersebut, mekanisme kunjungan edukasi dibuat sederhana. Sekolah atau komunitas cukup berkomunikasi langsung dengan pengelola tanpa prosedur administratif yang berbelit.
Dalam praktiknya, RBK mengembangkan metode pembelajaran berbasis permainan tradisional sebagai media utama edukasi. Pendekatan ini tidak hanya mengenalkan kebudayaan lokal, tetapi juga membentuk mental, keberanian, serta kemampuan komunikasi anak-anak.
Pola pembelajaran disesuaikan dengan jenjang usia siswa SD didorong untuk berani berbicara dan bertanya, siswa SMP dilatih menyampaikan pendapat, sementara siswa SMA diarahkan untuk mampu mempresentasikan gagasan di ruang publik.
“Kelemahan anak-anak kita hari ini bukan pada kemampuan, tetapi pada mental. Mereka kurang ruang untuk tampil dan berbicara,” jelas Rahmat.
Melalui ruang-ruang budaya yang aman dan partisipatif, RBK mendorong anak-anak untuk tumbuh percaya diri dan berdaya.
Lebih dari sekadar ruang belajar, RBK juga berperan sebagai penghubung antara sekolah, pelatih seni, dan komunitas budaya.
Ketika sekolah membutuhkan pengenalan kesenian atau permainan tradisional, RBK menjembatani dengan pihak-pihak kompeten, bahkan siap terlibat langsung di lapangan. Di sisi lain, RBK membuka ruang bagi seniman dan pelatih yang ingin berbagi ilmu namun tidak memiliki wadah.
Rahmat menegaskan, tujuan utama Rumah Budaya Kutai adalah mengembalikan nilai adab dan akhlak melalui kebudayaan. Nilai-nilai tersebut diyakini akan bermuara pada penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya. “Bagi kami, kebudayaan itu bukan nostalgia, tetapi kekuatan masa depan,” pungkasnya.(Silvi)
