Portalraya.com, Kukar– Kepala Desa Jembayan, Erwin, memberikan klarifikasi terkait aksi penyampaian pendapat di muka umum yang digelar Sofyan dan rekan-rekannya pada Rabu (13/08/2025). Klarifikasi ini disampaikan untuk meluruskan berbagai tuduhan yang beredar di masyarakat.
Erwin membantah tudingan tidak melibatkan lembaga kemasyarakatan dan lembaga adat desa. Menurutnya, Pemerintah Desa Jembayan justru menggelar Festival Jembayan Kampung Tua (FJKT) 2025 dengan anggaran sekitar Rp75 juta.
“Kalau saya tidak melibatkan mereka, kenapa saya membuat kegiatan itu? FJKT ini vakum beberapa tahun, termasuk karena Covid-19. Tahun 2023 sebenarnya dianggarkan, tapi gagal terlaksana karena perbedaan pola pengelolaan dana. Tahun 2025 kami ambil alih dan bentuk panitia resmi lewat SK Kepala Desa,” jelas Erwin.
Ia juga menepis tudingan memecah belah warga. Menurutnya, kondisi Desa Jembayan tetap kondusif.
“Setiap tahun kami melaksanakan upacara HUT RI, pengibaran dan penurunan bendera dilakukan oleh warga dari berbagai latar belakang. Itu bukti kebersamaan,” ujarnya.
Terkait alasan dana FJKT tidak diserahkan langsung ke lembaga adat, Erwin mengungkapkan bahwa pada 2021, Pemerintah Desa pernah memberikan kegiatan penggalian sejarah dan budaya kepada lembaga adat. Namun, pertanggungjawaban dana tersebut tidak jelas dan menjadi temuan Inspektorat.
“Nilai temuan sebesar Rp11.598.540 harus dikembalikan ke kas desa. Harusnya Pak Sofyan selaku penanggung jawab yang mengembalikan, tapi akhirnya kami patungan. Berdasarkan pengalaman itu dan sistem keuangan desa yang kini non-tunai, kami lebih hati-hati,” paparnya.
Erwin juga menyinggung soal hiburan DJ yang digelar setelah penutupan FJKT. Ia mengaku awalnya tidak mengetahui rencana tersebut, namun kegiatan sudah terlanjur diumumkan di media sosial.
“Saya izinkan dengan berat hati meski lokasi di depan kantor desa menurut saya kurang pantas. Saya ikut memantau, sempat terjadi keributan kecil, tapi bisa dikendalikan,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Adat Jembayan, Sofyan, mengakui bahwa puncak permasalahan terjadi pada saat acara hiburan rakyat setelah FJKT. Menurutnya, acara hiburan tersebut merupakan inisiatif masyarakat Jembayan.
“Selesai acara FJKT, masyarakat meminta untuk ada acara hiburan dengan mengundang DJ,” kata Sofyan.
Namun, di penghujung acara, Sofyan mengaku terpancing emosi setelah Kepala Desa Erwin memanggil dan menginstruksikan soal kebersihan lingkungan dengan nada tinggi.
“Sehingga saya terpancing dengan perkataan beliau,” pungkasnya.(Silvi)
