Portalraya.com, Kukar- Satu tahun masa jabatan bagi sebagian legislator mungkin cukup dirangkum dalam laporan kinerja dan data statistik. Namun bagi Anggota Komisi II DPRD Kutai Kartanegara, Rahmat Dermawan, perjalanan pengabdian tidak hanya layak dicatat, tetapi juga diceritakan. Melalui film dokumenter berjudul Penyambung Lidah Rakyat, ia merawat ingatan, merefleksikan amanah, dan menegaskan komitmen politiknya kepada masyarakat. Selasa, (03/03/2026).
Film tersebut lahir dari inisiatif relawan dan tim yang selama ini mendokumentasikan berbagai aktivitasnya sebagai wakil rakyat. Dari menerima aspirasi warga, mengawal program pemerintah daerah, hingga memastikan masyarakat memperoleh akses terhadap pembangunan, seluruh proses terekam secara autentik.
“Awalnya hanya dokumentasi arsip kegiatan. Tetapi kami melihat ada cerita yang lebih besar, bukan sekadar tentang saya, melainkan tentang bagaimana amanah itu dijalankan,” ujar Rahmat.
Dalam narasi film, ia tidak hanya menampilkan sisi formal sebagai legislator. Latar belakang kehidupan pribadinya turut diangkat sebagai fondasi nilai perjuangan. Rahmat tumbuh dari keluarga sederhana ibu seorang pedagang dan ayah petani yang membentuk perspektifnya tentang arti keberpihakan kepada rakyat kecil.
Judul Penyambung Lidah Rakyat sendiri memiliki makna historis dan ideologis. Ia terinspirasi dari buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang mengisahkan perjalanan Soekarno. Buku tersebut diperolehnya dari sang mentor, Muhammad Samsun, dan menjadi bacaan yang berulang kali ia dalami.
“Dari buku itu saya memahami bahwa politik adalah alat perjuangan untuk rakyat, bukan sekadar alat kekuasaan,” katanya.
Film berdurasi dokumenter tersebut kini telah rampung diproduksi. Trailer resmi sudah beredar, sementara agenda nonton bareng direncanakan berlangsung usai Lebaran di empat kecamatan daerah pemilihannya Samboja, Samboja Barat, Muara Jawa, dan Sanga-Sanga. Kegiatan ini akan melibatkan tokoh masyarakat, kelompok warga, serta generasi muda setempat.
Bagi Rahmat, pemutaran film bukan sekadar seremoni, melainkan ruang dialog. Ia ingin menjadikan film sebagai medium edukasi politik yang membumi, menjelaskan bagaimana proses kebijakan berjalan serta bagaimana tanggung jawab publik dijalankan secara transparan.Ia pun menekankan pentingnya kesadaran politik, terutama bagi generasi muda pesisir.
“Baik buruknya kebijakan hari ini adalah hasil keputusan politik sebelumnya. Karena itu, politik tidak boleh dipilih secara sembarangan,” tegasnya.
Melalui film ini, Rahmat Dermawan menegaskan satu pesan utama: politik sejatinya adalah tentang keberanian menyuarakan aspirasi dan kesetiaan menjaga amanah rakyat, bukan sekadar panggung kekuasaan.(Silvi)
