Portalraya.com, Kukar- Rangkaian Erau Adat Kutai 2025 kembali menampilkan sebuah kegiatan istimewa yang sarat makna spiritual, yaitu Maulid Berzanji. Acara ini menjadi momentum penting yang tidak hanya bernuansa religi, tetapi juga memperkaya khazanah budaya dalam perayaan adat terbesar di Kutai Kartanegara. Kamis, (25/09/2025)
Asisten III, Dafip Haryanto, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan simbol perpaduan tradisi dan agama yang telah berlangsung sejak lama. Menurutnya, penyelenggaraan Maulid Berzanji merupakan bukti nyata transformasi dari budaya kerajaan Hindu menuju kerajaan Islam, tanpa meninggalkan akar adat yang sudah mengakar di masyarakat.
“Acara ini adalah bagian dari upaya melestarikan dan sekaligus mentransformasi budaya kerajaan terdahulu. Dengan adanya Maulid, kita berharap nilai-nilai Islam benar-benar tercermin dalam perayaan Erau 2025,” ujar Dafip.
Keistimewaan acara ini terletak pada hadirnya kesenian berjanji dan burdah, yang menampilkan lantunan puji-pujian untuk Rasulullah SAW dengan balutan seni musik dan syair yang indah. Menurut Dafip, kesempatan seperti ini tidak selalu hadir di setiap momentum perayaan.
“Ini spesial, karena tidak setiap tahun kesenian berjanji dan burdah mendapat kesempatan tampil. Kita melihat apresiasi yang begitu besar untuk memuji Rasulullah melalui bentuk seni. Dengan cara seperti ini, masyarakat menjadi lebih familiar dalam menerima ajaran Islam,” jelasnya.
Lebih lanjut, Dafip menyampaikan bahwa perpaduan seni, budaya, dan agama dalam Maulid Berzanji mencerminkan bagaimana masyarakat Kutai Kartanegara menjaga identitasnya. Tradisi tidak ditinggalkan, tetapi diperkuat dengan nilai-nilai spiritual yang relevan lintas generasi.
“Ini adalah bentuk pelestarian yang harus terus kita dukung setiap tahun. Erau bukan hanya pesta budaya, tetapi juga sarana edukasi, ruang spiritual, dan wahana untuk mempererat ukhuwah serta meneguhkan jati diri kita sebagai masyarakat Kutai Kartanegara,” tegasnya.
Melalui penyelenggaraan Maulid Berzanji, Erau 2025 menghadirkan suasana yang lebih bermakna. Perpaduan adat kerajaan dengan nilai-nilai Islam menjadikan festival ini bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan yang menghubungkan masyarakat dengan akar sejarah sekaligus spiritualitas yang mendalam.(Silvi)
