Portalraya.com, Kukar– Menjelang penyelenggaraan Anugerah Kebudayaan Kutai Kartanegara (Kukar) 2025 yang akan digelar pada 24 Oktober mendatang di Taman Tanjong Tenggarong, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Kartanegara (Disdikbud Kukar) melalui Bidang Kebudayaan menegaskan komitmennya dalam memperkuat upaya pelestarian dan edukasi budaya bagi generasi muda. Sabtu, (11/10/2025).
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kukar, Puji Utomo, S.H., menyampaikan bahwa kegiatan kebudayaan tahun ini tidak hanya menjadi ruang pertunjukan seni, tetapi juga wahana edukatif bagi pelajar dan masyarakat.
“Kami menyiapkan berbagai kegiatan, mulai dari workshop film, lomba menyanyi dalam bahasa Kutai, hingga penayangan karya film siswa SMP. Semua ini bagian dari proses menuju puncak Anugerah Kebudayaan nanti,” ujarnya.
Puji juga menegaskan bahwa kegiatan kebudayaan di Kukar bersifat inklusif, terbuka untuk seluruh masyarakat, termasuk peserta dari luar daerah.
“Kebudayaan itu milik semua orang. Pekan kebudayaan ini terbuka bagi siapa pun yang ingin menampilkan karya dan ekspresi budayanya,” tambahnya.
Ia menyebutkan bahwa akar budaya Tenggarong sangat kuat, berakar dari eksistensi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang masih lestari hingga kini mulai dari museum, situs makam, hingga adat istiadat yang masih dijaga keturunannya.
Sementara itu, Erwan Riyadi, S.E., M.Si., selaku Pembina Gerakan Literasi Kutai Kartanegara, menilai kegiatan ini sangat penting untuk menjaga eksistensi budaya melalui pendekatan literasi dan media digital.
“Budaya harus tetap eksis. Salah satu caranya adalah dengan menampilkannya di ruang publik, seperti di Titik Nol dan Soe Tenggarong ini. Ketika budaya ditampilkan, masyarakat tidak hanya terhibur, tapi juga teredukasi tentang jati diri dan karakter orang Kutai,” ujarnya.
Erwan menambahkan, kehadiran dua pusat kegiatan Titik Nol yang berfokus pada seni budaya dan Soe yang mengarah pada ekonomi kreatif merupakan bentuk keseimbangan yang saling melengkapi.
“Beda tapi nyambung. Yang penting ada kolaborasi antara pemerintah dan komunitas agar hasilnya lebih besar dan berkelanjutan,” jelasnya.
Keduanya sepakat bahwa keberlanjutan budaya di Kukar memerlukan sinergi antara pemerintah dan pelaku seni.
“Ketika pemerintah menyediakan fasilitas, komunitas harus siap memanfaatkannya. Dari situ akan lahir hubungan saling menguatkan,” tutup Erwan.(Silvi)
