Ritual Menjamu Benua, Tradisi Memohon Penjagaan dalam Erau

Portalraya.com, Kutai Kartanegara – Ritual Menjamu Benua merupakan salah satu bagian penting dalam rangkaian Erau Adat Kutai Kartanegara. Prosesi ini dimaknai sebagai bentuk jamuan sekaligus undangan kepada pihak-pihak yang diyakini memiliki keterkaitan dengan pelaksanaan adat. Selain itu, ritual tersebut menjadi sarana memohon ketentraman dan keselamatan agar seluruh rangkaian prosesi dapat berjalan dengan baik.

Sartin, pelaku ritual adat dari Belian Mamang Desa Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun Darat, mengatakan Menjamu Benua merupakan tata cara adat yang dilaksanakan setelah penyampaian kabar melalui Titi Bende.

“Setelah kita memberi kabar, kemudian kita melaksanakan Menjamu Benua. Kemarin yang kita kasih kabar, hari ini kita jamu, kita undang,” ujar Sartin, Kamis sore (17/6/2026).

Ia menjelaskan, pihak yang diundang dalam pemahaman ritual adat tidak terbatas pada masyarakat yang hadir secara langsung. Prosesi tersebut juga ditujukan kepada roh leluhur serta penjaga gaib yang dipercaya memiliki keterkaitan dengan pelaksanaan ritual.

Melalui Menjamu Benua, pelaku ritual memohon penyertaan sekaligus penjagaan agar seluruh rangkaian adat dapat berlangsung secara aman dan lancar.

“Kita meminta kepada mereka, yang baik, yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, supaya ikut serta dalam acara ini. Sehingga kita bersama-sama melaksanakan acara dan mereka ikut serta untuk menjaga,” katanya.

Dalam pelaksanaannya, Menjamu Benua juga diisi dengan pemberian jamuan atau sesajian ritual yang disebut ambak beri budi. Dalam pemahaman adat, jamuan tersebut menjadi simbol penugasan kepada roh leluhur dan penjaga gaib untuk turut menjaga kondusifitas selama prosesi adat berlangsung.

“Diberi jamuan-jamuan, semacam cendera mata atau segala macam, sebagai tanda bahwa mereka ditugasi untuk menjaga kita,” ujarnya.

Sartin menuturkan, rangkaian Menjamu Benua dimulai ketika pelaku ritual menghadap Sultan untuk menyampaikan laporan sekaligus mengambil pakaian Sultan.

Pakaian tersebut kemudian dibawa dalam rangkaian prosesi sebagai simbol kehadiran Kesultanan dalam pelaksanaan ritual.

“Pakaian itu adalah pakaian dari Sultan sebagai simbol bahwa adanya Kesultanan dalam rangka ritual Menjamu Benua. Walaupun secara raga beliau tidak ada, pakaian itu sebagai simbol kehadiran,” jelasnya.

Selanjutnya, pelaku ritual bergerak menuju tiga lokasi yang menjadi bagian dari rangkaian Menjamu Benua, yakni Kepala Benua, Penengah Benua, dan Buntut Benua.

Kepala Benua terletak di kawasan Tanah Habang. Sementara Penengah Benua berada di kawasan pusat kota, tepatnya di sekitar depan Keraton. Adapun Buntut Benua berada di sekitar Jembatan Mahakam, Kelurahan Timbau.

Ketiga lokasi tersebut menjadi bagian dari tata cara Menjamu Benua dalam rangkaian Erau Adat Kutai Kartanegara.

Usai seluruh rangkaian prosesi dilaksanakan, pakaian Sultan kemudian dikembalikan. Sartin menyebut proses pengambilan hingga pengembalian pakaian Sultan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan Menjamu Benua.

Menjamu Benua menjadi salah satu bagian dalam rangkaian adat Erau yang mengandung makna jamuan, penghormatan dan undangan, sekaligus permohonan penjagaan berdasarkan pemahaman serta kepercayaan adat yang diwariskan secara turun-temurun. (Ita)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *