Portalraya.com, Kutai Kartanegara – Gelar Budaya Festival Seribu Tumpeng di Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara, resmi berakhir. Penutupan berlangsung di lapangan sepak bola Desa Margahayu, Minggu (30/8/2026).
Festival yang digelar sejak 25 Agustus tersebut melibatkan 18 paguyuban kesenian dari 15 desa se-Kecamatan Loa Kulu. Berbagai kesenian tradisional, seperti jaranan, reog, kuda lumping dan jantilan, turut ditampilkan dan mendapat sambutan antusias dari masyarakat.
Penutupan festival dihadiri Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-21 Aji Muhammad Arifin, Wakapolres Kukar Kompol Izdiharuddin Faris Raharja Putra, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar Pujianto yang mewakili Bupati Kukar, Kapolsek Loa Kulu, para kepala desa, tokoh agama, tokoh adat serta masyarakat.
Kapolsek Loa Kulu AKP Hari Supranoto selaku Pembina Paguyuban Kesenian Kecamatan Loa Kulu mengatakan, rangkaian festival dibagi menjadi dua zona agar seluruh paguyuban memperoleh kesempatan tampil sekaligus menjangkau masyarakat di berbagai wilayah.
“Zona pertama dilaksanakan di Desa Loa Kulu, diawali Festival Seribu Tumpeng dan dilanjutkan pagelaran seni budaya. Kemudian zona kedua berlangsung 28 Agustus, sedangkan penutupannya hari ini di Desa Margahayu,” kata Hari.
Ia menjelaskan, seluruh kegiatan terlaksana atas inisiatif masyarakat dengan mengedepankan semangat gotong royong dan pendanaan secara swadaya. Pelaksanaan festival juga mendapat dukungan dari Paguyuban Turangga Seta Aji Pangeran Sinom Panji Mendapa Ing Martapura, dunia pendidikan, akademisi, pelaku seni serta berbagai pihak lainnya.
“Ini merupakan sumbangsih masyarakat melalui budaya dalam memperingati kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus memperkuat semangat persatuan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Pembagian festival menjadi dua zona dilakukan agar seluruh pertunjukan tidak hanya terpusat di satu lokasi. Selain mempertimbangkan durasi kegiatan, pola tersebut juga memberi kesempatan kepada masyarakat dari wilayah berbeda untuk menyaksikan rangkaian acara.
Hari berharap festival serupa dapat terus digelar secara bergilir dari satu desa ke desa lainnya. Dengan begitu, semakin banyak masyarakat yang berkesempatan terlibat sekaligus menjadi tuan rumah kegiatan budaya.
“Harapan kami, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur, mempererat hubungan masyarakat, dan menjadi bentuk rasa syukur atas segala nikmat yang kita rasakan,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Disdikbud Kukar Pujianto yang membacakan sambutan Bupati Kukar mengapresiasi antusiasme masyarakat dalam menyelenggarakan Festival Seribu Tumpeng.
Ia mengaku bangga dapat hadir dalam kegiatan yang dinilai menunjukkan kuatnya semangat masyarakat dalam mempertahankan keberadaan budaya.
“Saya tentu merasa senang dan bangga bisa hadir di tengah-tengah masyarakat dalam kegiatan seperti ini. Bagi saya, undangan dan kesempatan untuk menyaksikan langsung semangat masyarakat dalam menghidupkan budaya merupakan sesuatu yang sangat berarti,” kata Pujianto.
Menurutnya, gelar budaya tidak hanya menjadi ajang pertunjukan seni, tetapi juga wadah untuk mempertahankan identitas daerah sekaligus mengenalkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.
“Kita melihat sendiri bagaimana masyarakat, para seniman dan paguyuban bisa bersatu dalam satu kegiatan. Ini menunjukkan bahwa budaya masih hidup dan mendapat tempat di tengah masyarakat. Tentu ini menjadi sesuatu yang patut kita apresiasi dan terus kita dukung,” ujarnya.
Pujianto menyebut keberagaman budaya yang berkembang di Kukar merupakan kekayaan bersama. Karena itu, keberagaman tersebut perlu terus dirawat dan dijadikan kekuatan dalam membangun persatuan serta toleransi.
“Budaya tidak boleh hanya menjadi kenangan masa lalu. Kita perlu memberikan ruang kepada generasi muda untuk mengenal, mempelajari, mencintai dan mengembangkan kebudayaan,” katanya.
Ia menambahkan, Pemkab Kukar melalui Disdikbud akan terus mendorong pelestarian dan pengembangan budaya dengan membuka ruang kolaborasi bersama masyarakat, pelaku seni, komunitas dan paguyuban.
Penutupan Festival Seribu Tumpeng di Desa Margahayu menjadi puncak rangkaian kegiatan yang melibatkan 18 paguyuban kesenian. Selain menjadi ruang pertunjukan, festival tersebut menunjukkan kekuatan inisiatif dan gotong royong masyarakat dalam menjaga budaya agar tetap hidup serta dikenal oleh generasi berikutnya.
(R Danny)
