Portalraya.com, Kutai Kartanegara – Festival Budaya Seribu Tumpeng yang digelar di Kecamatan Loa Kulu tidak hanya menjadi ajang pertunjukan seni tradisional. Kegiatan tersebut juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian warga dan pelaku UMKM di Desa Margahayu yang menjadi tuan rumah penutupan festival, Minggu (30/8/2026).
Festival yang berlangsung sejak 25 hingga 30 Agustus 2026 itu melibatkan 18 paguyuban seni dari 15 desa di Kecamatan Loa Kulu. Beragam kesenian tradisional, mulai dari kuda lumping hingga kesenian khas Jawa dan Kalimantan, turut ditampilkan.
Kepala Desa Margahayu Rusdi mengatakan, pelaksanaan festival mendapat sambutan positif dari masyarakat. Menurutnya, kegiatan yang lahir dari aspirasi dan inisiatif masyarakat tersebut turut menggerakkan aktivitas ekonomi warga.
“Selama rangkaian kegiatan berlangsung, Alhamdulillah kami melihat dampak positif bagi pelaku UMKM, khususnya di Desa Margahayu dan sekitarnya. Kegiatan ini memberikan nilai ekonomis bagi masyarakat sekaligus menciptakan perputaran ekonomi antara pelaku UMKM dengan masyarakat desa,” kata Rusdi.
Rusdi menjelaskan, Desa Margahayu menjadi lokasi pelaksanaan rangkaian kegiatan zona kedua. Ia berharap ke depan festival dapat digelar secara bergilir sehingga desa-desa lain di Kecamatan Loa Kulu juga berkesempatan menjadi tuan rumah.
Ia juga berharap Festival Seribu Tumpeng dapat terus dilaksanakan setiap tahun dengan dukungan pemerintah dan berbagai pihak agar cakupan serta manfaatnya semakin luas.
“Harapan kami kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan setiap tahun. Kami juga berharap adanya dukungan dari pemerintah dan berbagai pihak agar festival budaya ini terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Selain berdampak pada sektor ekonomi, festival tersebut juga memberikan pengalaman tersendiri bagi masyarakat karena dihadiri sejumlah tokoh penting. Kehadiran Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura di wilayah mereka menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga.
Adilianur Rahma, salah seorang warga, menilai kegiatan tersebut menarik karena turut membuat wilayah Jonggon semakin dikenal. Ia berharap kegiatan serupa terus dikembangkan.
“Menurut saya acaranya seru dan menarik. Jarang sekali Jonggon kedatangan orang-orang penting seperti Sultan, Bupati dan pejabat lainnya. Dengan adanya kegiatan ini, Jonggon bisa lebih dikenal. Kalau acara seperti ini terus dikembangkan, kami sebagai masyarakat tentu sangat bangga,” katanya.
Hal serupa disampaikan Alia, warga lainnya. Ia mengaku senang melihat kehadiran Sultan Kutai Kartanegara dalam kegiatan tersebut.
“Menurut saya ini keren banget, karena seperti pertama kalinya Sultan datang ke desa ini. Jadi rasanya senang dan bangga. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus dikembangkan,” ujarnya.
Rusdi menambahkan, dalam penutupan festival juga disampaikan rencana agar Festival Seribu Tumpeng dan pagelaran seni budaya khas Jawa serta Kalimantan dapat masuk dalam agenda tahunan Kabupaten Kutai Kartanegara.
Jika terealisasi, festival tersebut tidak hanya menjadi kegiatan budaya masyarakat Loa Kulu, tetapi juga berpotensi menjadi agenda tahunan yang mempertemukan seni, masyarakat dan aktivitas ekonomi lokal secara berkelanjutan.
Bagi Desa Margahayu, pelaksanaan festival tahun ini menjadi pengalaman sekaligus dorongan untuk terus mengembangkan kegiatan serupa agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat. (R Danny)
