Portalraya.com, KUKAR – Di Desa Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun Darat, sebuah tradisi sederhana terus membuktikan bahwa budaya bukan sekadar warisan, tapi juga pengikat komunitas.
Tradisi Nutuk Beham upacara panen ketan muda tak hanya jadi ritual tahunan, tapi juga ajang memperkuat hubungan sosial di antara warga.
Setiap tahunnya, warga berkumpul, menumbuk ketan, memasaknya bersama, dan menyajikannya dalam semangat gotong royong. Tak ada panggung megah atau atraksi wisata yang dipaksakan. Semua berlangsung alami, dalam nuansa kebersamaan yang mengakar.
Meski pernah vakum dua tahun akibat pandemi, semangat warga tak surut. Tradisi ini kembali digelar dengan partisipasi penuh dari berbagai kalangan, termasuk generasi muda. Bagi banyak anak dan remaja, Nutuk Beham menjadi ruang belajar tentang identitas dan akar budaya mereka sendiri.
Kepala Desa Kedang Ipil, Kuspawansyah, menyebut kegiatan ini bukan sekadar nostalgia. Ia menjadi cermin dari nilai-nilai sosial yang hidup dalam masyarakat.
“Animo masyarakat sangat tinggi. Tradisi ini mengajak semua warga untuk bersilaturahmi dan turut serta dalam setiap rangkaian kegiatan,” katanya.
Walau baru resmi masuk kalender budaya desa sejak 2016, akar Nutuk Beham telah hidup sejak lama. Ritual ini muncul dari tradisi para peladang yang bersyukur atas hasil panen ketan sebagai lambang berkat dari alam.
Pemerintah desa melihat potensi lebih besar. Nutuk Beham kini mulai diarahkan sebagai daya tarik budaya lokal yang bisa dikembangkan tanpa kehilangan esensi aslinya.
Diskusi bersama kelompok seni, pemuda, dan masyarakat terus dilakukan agar pelaksanaannya tetap orisinal namun juga terbuka untuk publik lebih luas.
“Harapannya, kegiatan ini bisa terus dijaga dan menjadi pengikat identitas budaya kita,” tutup Kuspawansyah. (Adv/Diskominfo Kukar)
