Portalraya.com, Kukar – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan dua saudara asal Kutai Kartanegara (Kukar), M. Angkasa Abdurahman dan Chalista Alfarida Abdurahman. Keduanya tampil di Indonesia Muaythai Championship 2026 dan sama-sama berhasil menyumbangkan medali emas bagi Kalimantan Timur (Kaltim).
Angkasa bertanding pada kategori U14 kelas 38 kilogram, sementara Chalista turun di kategori U10 kelas 26 kilogram. Raihan tersebut menambah daftar prestasi keduanya yang telah mengenal olahraga bela diri sejak usia dini.
Bagi keluarga Abdurahman, keberhasilan tersebut bukan pengalaman pertama bagi Angkasa dan Chalista untuk naik podium. Sebelumnya, keduanya juga berpartisipasi dalam ajang Inorga ASTA Indonesia pada Festival Olahraga Rekreasi Nasional (Fornas) NTB 2025.
Dalam kejuaraan tersebut, Angkasa berhasil meraih medali emas, sedangkan Chalista membawa pulang medali perak.
Setahun berselang, keduanya kembali berada dalam satu kompetisi. Kali ini, prestasi yang diraih lebih lengkap karena Angkasa dan Chalista sama-sama berhasil membawa pulang medali emas.
Pencapaian dua atlet muda tersebut tidak lepas dari peran sang ayah sekaligus pelatih, Rony Abdurahman. Ia menyebut minat keduanya terhadap olahraga bela diri telah muncul sejak usia dini.
Menurutnya, Angkasa dan Chalista bahkan tidak membutuhkan paksaan untuk menjalani latihan. Keduanya tumbuh di lingkungan Arkan Camp sehingga aktivitas latihan telah menjadi bagian dari keseharian.
“Mereka berdua ini mengalir darah petarung. Jadi latihan tanpa harus dipaksa. Kalau dilarang latihan pasti enggak mau,” ujar Rony, Jumat (14/8/2026).
Angkasa dan Chalista mulai mengikuti latihan bela diri sejak berusia sekitar lima tahun. Kebiasaan tersebut terus berlangsung hingga sekarang dan menjadi bagian dari rutinitas keduanya.
“Kami tinggal di lingkungan Arkan Camp, keluar kamar sudah tempat latihan. Mereka latihan sudah dari usia lima tahun. Jadi sudah menjadi kebiasaan,” katanya.
Meski prestasi keduanya mulai terlihat di cabang Muaythai, Rony memilih tidak terburu-buru mengarahkan Angkasa dan Chalista untuk menetapkan satu cabang bela diri.
Ia menilai pengalaman bertanding menjadi hal yang lebih penting pada usia mereka saat ini. Karena itu, keduanya diberikan ruang untuk mencoba berbagai disiplin bela diri sebelum menentukan cabang yang paling sesuai dengan kemampuan dan karakter masing-masing.
“Saat ini mereka saya persiapkan agar terus mencari pengalaman di berbagai bela diri. Nanti kalau sudah ketemu bela diri yang pas, mereka akan fokus di bela diri itu,” jelasnya.
Rony menilai pembinaan atlet usia dini tidak seharusnya hanya mengejar hasil pertandingan. Kemampuan teknik, pengalaman bertanding, kedisiplinan hingga pembentukan mental perlu dibangun secara bertahap.
Menurutnya, prestasi yang diperoleh ketika masih berada di tingkat junior dapat menjadi modal penting bagi atlet untuk menghadapi persaingan pada jenjang yang lebih tinggi.
Tetap Utamakan Pendidikan
Di tengah rutinitas latihan dan agenda pertandingan, keluarga tetap menempatkan pendidikan sebagai bagian penting dalam perjalanan Angkasa dan Chalista. Angkasa yang kini berusia 13 tahun merupakan siswa SMPN 3 Tenggarong, sedangkan Chalista yang berusia 10 tahun bersekolah di SDN 022 Tenggarong.
Keduanya juga memperoleh dukungan dari pihak sekolah ketika menjalani persiapan menuju kejuaraan. Bahkan, sekolah memberikan dispensasi selama masa latihan yang berlangsung sekitar satu bulan.
Bagi Rony, dukungan tersebut memiliki peran besar karena perkembangan atlet muda tetap harus berjalan beriringan dengan pendidikan.
“Intinya dukungan orang tua dan sekolah sangat penting untuk prestasi atlet,” tuturnya.
Ia menambahkan, prestasi Angkasa dan Chalista tidak hanya terbentuk dari latihan yang mereka jalani. Dukungan keluarga, sekolah serta lingkungan tempat berlatih turut menjadi faktor yang membantu perkembangan keduanya hingga mampu tampil di level nasional.
Usai meraih emas dalam Indonesia Muaythai Championship 2026, Angkasa masih memiliki agenda pertandingan berikutnya. Ia dipersiapkan untuk mengikuti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kaltim di Paser yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang.
Namun, pada ajang tersebut Angkasa tidak akan tampil dalam kategori tarung. Ia akan mengikuti kategori culture atau seni Wai Khruu yang menampilkan gerakan penghormatan sekaligus unsur budaya dalam olahraga Muaythai.
Kesempatan tersebut menjadi pengalaman tambahan bagi Angkasa untuk mengembangkan kemampuan di luar pertandingan tarung.
Bagi keluarga Abdurrahman, raihan dua medali emas dari kakak beradik tersebut bukan semata-mata tentang kemenangan. Proses yang telah mereka jalani sejak usia dini diharapkan mampu membentuk karakter Angkasa dan Chalista menjadi pribadi yang disiplin, berani serta konsisten.
Dengan dukungan keluarga dan sekolah, keduanya kini terus melanjutkan perjalanan sebagai atlet muda Kukar yang membawa nama Kaltim di arena Muaythai. (R Danny)
