Portalraya.com, Kukar– Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2025, permintaan ternak babi di wilayah Tenggarong kembali menarik perhatian. Di tengah meningkatnya kebutuhan daging untuk perayaan akhir tahun, seorang peternak lokal, Gemima, mengungkapkan dinamika penjualan, harga, hingga pola pemeliharaan yang dijalankan para peternak babi di daerah tersebut. Rabu, (10/12/2025).
Gemima menjelaskan bahwa permintaan ternak babi menjelang Natal tidak selalu stabil. “Tidak tentu, semuanya tergantung pembelinya. Ada tahun yang ramai, ada yang biasa saja,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa penjualan tidak bergantung pada warna atau jenis babi. “Semuanya sama, tidak memandang warna.” jelasnya.
Untuk proses pemeliharaan, Gemima mengungkapkan bahwa seekor babi membutuhkan waktu sekitar tujuh bulan hingga siap jual. “Kalau dari lahir sampai besar, kadang sampai tujuh bulan baru bisa dijual,” jelasnya.
Ukuran dan usia babi menentukan harga jual di pasaran. Babi ukuran sedang yang baru berusia tiga bulan misalnya, dihargai berbeda dari yang sudah cukup besar. “Kalau main timbang, yang besar kadang Rp100.000 per kilo, kalau yang agak remaja sekitar Rp70.000 per kilo,” ujar Gemima.
Ia menambahkan bahwa pembeli tidak hanya berasal dari Tenggarong, tetapi juga dari luar daerah. “Ada juga yang datang dari Kubar. Paling jauh ya dari Kutai Barat,” katanya.
Meski berbagai komoditas pangan mengalami fluktuasi harga menjelang hari besar, harga ternak babi menurutnya cenderung tetap. “Enggak ada turunnya, tetap. Tapi kadang kalau peternak butuh uang, ada yang jatuhkan harga karena ditawar pembeli.”
Untuk bulan Desember ini, Gemima mengakui bahwa belum ada penjualan karena babi yang tersedia masih berusia muda. “Saat ini belum ada saya jual karena masih kecil. Nanti bulan dua baru saya lepas,” ujarnya. Hal ini dipertimbangkan dari biaya pakan yang cukup tinggi. “Kalau masih kecil, masih rugi kita jual.” tegasnya.
Dalam proses pemeliharaan, Gemima menggunakan campuran dedak, ampas tahu, daun ubi, kangkung, dan nasi sisa yang masih layak. Pembersihan kandang dilakukan dua kali sehari, pagi dan sore, demi menjaga kesehatan ternak.
Ia menutup penjelasan dengan menyebutkan bahwa pembelian terakhirnya adalah babi seberat 10 kilogram dengan harga Rp1.000.000 sebagai tambahan stok ternaknya.
Melalui kesabaran dan perhitungan cermat, peternak seperti Gemima tetap menjadi penopang penting dalam memenuhi kebutuhan daging babi di wilayah Tenggarong, terlebih di momentum hari besar keagamaan.(Silvi)
