Menjelang Natal dan Tahun Baru, Penjual Sembako dan Ayam di Tenggarong Alami Kenaikan Permintaan Namun Keuntungan Tetap Menipis

Portalraya.com, Kukar– Menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, sejumlah pedagang sembako dan ayam di Tenggarong mulai merasakan adanya pergerakan permintaan dari masyarakat. Meski demikian, peningkatan permintaan tersebut tidak sepenuhnya berdampak pada kenaikan pendapatan, karena sebagian pedagang mengaku keuntungan justru semakin menipis akibat harga modal yang ikut naik. Rabu, (10/12/2025).

Salah satu pedagang sembako dan jajanan, Maituni, mengungkapkan bahwa meski pembeli mengalami peningkatan pada bulan Desember, kondisinya masih terbilang stabil.

“Jualan sembako dan snack itu ya biasa saja. Memang ada peningkatan sedikit dibanding bulan-bulan sebelumnya, tapi tidak signifikan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa masyarakat membeli beragam kebutuhan mulai dari sembako hingga jajanan seperti chiki dan bingkisan untuk persiapan perayaan.

Menurut Maituni, barang yang paling sering dicari meliputi gula, minyak, mie instan, hingga beras. Namun meski permintaan meningkat, keuntungan tidak bertambah.

“Harganya tetap standar saja. Kita tidak bisa menaikkan harga terlalu jauh karena kasihan masyarakat. Kadang untung kami justru menipis karena barang dari pemasok sudah naik duluan,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa lonjakan permintaan tidak hanya terjadi menjelang hari besar nasional, tetapi cenderung stabil sepanjang tahun meski bulan Desember sedikit lebih ramai.

Sementara itu, pedagang ayam potong, Rahmat, yang sudah berjualan lebih dari 13 tahun, mengungkapkan bahwa harga ayam memang sering berfluktuasi tergantung kondisi stok.

IMG-20251209-WA0047

“Harga ayam naik turun itu biasa. Kendalanya bukan di hari besar, tapi lebih ke stok ayamnya. Kalau stok banyak, harga turun. Kalau stok kurang, ya naik,” jelasnya.

Rahmat menambahkan bahwa kenaikan harga ayam biasanya tidak berlangsung lama, sementara harga murah justru bertahan cukup panjang. Kondisi ini kadang membuat pedagang perlu menyesuaikan ritme penjualan agar tidak mengalami kerugian.

“Kalau ayam mahal, biasanya sebentar saja. Tapi kalau murah bisa lama, sehingga stoknya juga jadi berpengaruh,” ujarnya.

Setiap hari, Rahmat mampu menjual sekitar 100 hingga 150 kilogram ayam, sebagian besar untuk warung makan, warung langganan, dan pelanggan rutin lainnya di wilayah Tenggarong.

Ia mengakui bahwa mengandalkan pembeli eceran saja tidak cukup untuk menjaga stabilitas penjualan. “Kalau cuma eceran tidak bisa jalan. Harus ada langganan seperti warung makan dan sekolah,” tambahnya.

Meski kedua pedagang ini merasakan pergerakan pasar menjelang akhir tahun, keduanya sepakat bahwa keuntungan tidak mengalami peningkatan signifikan. Harga modal yang naik dan persaingan pasar membuat mereka tetap mempertahankan harga standar agar dapat terus memenuhi kebutuhan masyarakat.(Silvi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *