Portalraya.com, Kukar – Tim penyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim), memaparkan hasil kajian rona lingkungan awal di wilayah konsesi PT Cemerlang Sawit Nusantara (CSN).
Pemaparan tersebut dilakukan dalam rapat komisi pembahasan dokumen AMDAL yang berlangsung pada Kamis, 11 September 2025, dan menjadi bagian penting dari tahapan evaluasi terhadap rencana pengusahaan perkebunan kelapa sawit di daerah tersebut.
Ketua tim penyusun AMDAL, Muhammad Yahya, menjelaskan bahwa hasil kajian menemukan adanya dua tipe ekosistem utama di area studi.
“Pertama, ekosistem alami berupa semak belukar dan hutan sekunder muda. Kedua, ekosistem buatan berupa pertanian lahan kering. Temuan ini menjadi gambaran awal kondisi lingkungan sebelum adanya aktivitas perusahaan,” ungkap Yahya.
Dari sisi vegetasi, analisis menunjukkan tingkat keragaman flora yang cukup tinggi.
Pada tingkat pohon, ditemukan 13 jenis tanaman, dengan dominasi sawit, gmelina, dan sengon.
Pada tingkat tiang, terdapat 10 jenis pohon, di antaranya durian, gmelina, dan sawit sebagai spesies terbanyak.
Sementara pada tingkat pancang, laban, kenanga, dan sawit mendominasi, dan di tingkat semai, spesies yang paling banyak dijumpai adalah jabon, akasia, dan kenanga.
Selain itu, tim juga mendata 14 jenis semak belukar yang tumbuh alami di sekitar lokasi.
Kajian fauna darat menunjukkan keberadaan beragam jenis satwa liar, mulai dari serangga, unggas, reptil, amfibi, hingga mamalia.
Sebagian besar tidak termasuk kategori dilindungi, namun tercatat beberapa spesies penting yang termasuk satwa dilindungi, seperti rangkong gading, biawak Borneo, rusa sambar, dan orang utan.
Kondisi perairan di sekitar wilayah studi turut menjadi perhatian. Berdasarkan hasil analisis plankton di Muara Sungai Etapi, Muara Sungai Datat, dan Muara Sungai Sebulu, kualitas air menunjukkan kategori tercemar sedang hingga berat, bahkan sebelum aktivitas perusahaan berlangsung.
Meski demikian, tidak ditemukan indikasi plankton berbahaya yang dapat memicu blooming alga toksik.
Sementara itu, pengamatan terhadap komunitas benthos memperlihatkan perbedaan signifikan antar lokasi.
Di Muara Sungai Etapi dan Muara Sungai Datat tidak ditemukan biota dasar perairan, sedangkan di Muara Sungai Sebulu hanya dijumpai satu jenis, yakni Melanoides sp.
Hasil inventarisasi ikan juga menunjukkan sebagian besar spesies berada pada kategori aman (least concern) menurut daftar IUCN, dengan delapan jenis tercatat dalam kelompok tersebut.
Namun, ditemukan pula spesies sidat (Anguilla bicolor) yang tergolong mulai terancam dan masih menghuni perairan sekitar wilayah kajian.
Paparan hasil kajian ini menjadi dasar penting dalam proses penyusunan dokumen AMDAL PT Cemerlang Sawit Nusantara.
Temuan tersebut akan menentukan langkah pengelolaan dan mitigasi dampak lingkungan agar kegiatan usaha perkebunan dapat berjalan selaras dengan prinsip keberlanjutan dan konservasi lingkungan hidup. (Adv/DLHK KUKAR)
