Portalraya.com, Kukar– Pengelolaan sampah di Kelurahan Sukarame masih menghadapi tantangan besar, bukan hanya dari sisi teknis, tetapi juga pola pikir masyarakat. Meskipun dukungan pemerintah berupa kontainer dan bak sampah sudah tersedia, sebagian warga masih enggan terlibat langsung dalam program bank sampah. Senin, (29/09/2025)
Lurah Sukarame Muhammad Zulkifli menyebut, tantangan utama adalah menyatukan persepsi masyarakat bahwa sampah memiliki nilai ekonomi. “Banyak yang menganggap sampah hanya barang buangan tanpa manfaat. Padahal, jika dikelola, bisa menjadi sumber daya baru,” ungkapnya.
Untuk mengatasi hal ini, kelurahan gencar melakukan sosialisasi, terutama melalui ibu-ibu rumah tangga, PKK, hingga tokoh masyarakat. Edukasi mengenai pemilahan sampah basah, kering, plastik, hingga bahan kimia terus dilakukan agar warga terbiasa memilah sejak dari rumah.
Selain itu, Zulkifli menekankan bahwa perubahan budaya dan pola pikir adalah proses panjang. Ia mengibaratkannya seperti bambu yang butuh waktu lama untuk mengakar sebelum tumbuh tinggi. “Kita kuatkan fondasi dulu, akarnya. Setelah itu baru hasilnya terlihat kokoh dan tinggi,” ujarnya.
Meski jumlah RT di Sukarame relatif sedikit, hanya 13 RT, namun persoalan sampah tetap kompleks. Apalagi dengan kepadatan penduduk tinggi, sampah menumpuk lebih cepat. Pemerintah kelurahan berupaya agar wilayah kecil ini tidak menjadi tumpuan sampah berlebih.
Program edukasi juga menyasar kebiasaan lama warga yang dulu kerap membuang sampah ke gorong-gorong. Perlahan, kebiasaan tersebut berhasil diubah dengan penyediaan bak sampah dan sosialisasi berkelanjutan.
Zulkifli menegaskan, Kelurahan Sukarame mendukung penuh program Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) yang mendorong pembentukan bank sampah di tingkat masyarakat. “Target kami bukan hanya membentuk bank sampah, tetapi membangun kesadaran individu. Kalau setiap orang sudah paham bahwa sampah punya daya saing, barulah pengelolaan bisa efektif,” tegasnya.
Langkah ini diharapkan dapat menjadikan Sukarame contoh perubahan budaya masyarakat perkotaan dalam melihat sampah sebagai aset, bukan sekadar limbah. (Adv/DLHK KUKAR)
