Portalraya.com, Kukar– Suasana religius dan penuh kekhusyukan menyelimuti acara “Kukar Bersholawat” bersama ulama kharismatik Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf yang digelar di Tenggarong. Ribuan jamaah dari berbagai penjuru Kutai Kartanegara (Kukar) memadati Lapangan Upacara Kantor Bupati, bersatu dalam lantunan sholawat dan doa bersama untuk keselamatan daerah serta bangsa. Sabtu, (25/10/2025).
Dalam tausiyahnya, Habib Syech menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Hukum Sholawat keempat. Ia juga mengumumkan bahwa Hukum Sholawat kelima akan dilaksanakan pada Oktober 2026, dengan kerja sama antara BPD dan Kaltintara.
“Insyaallah tahun depan kita lanjutkan, Kukar dahulu, baru Bankkaltimtara,” ujar Habib Syech.
Beliau menekankan pentingnya keikhlasan dalam menerima setiap takdir Allah. “Kita merencanakan, tapi Allah yang menentukan, Allah tidak pernah membuat hamba-Nya kecewa. Semua ketentuan Allah itu adalah yang terbaik untuk hambanya,” tutur Habib Syech.
Ia juga mengingatkan agar umat senantiasa memperbanyak tobat dan dzikir. “Kalau pesawat saja bisa salah, apalagi manusia, Maka perbanyaklah bertobat,” ujarnya.
Habib Syech turut menyampaikan apresiasi kepada Bupati dan Wakil Bupati Kutai Kartanegara, serta seluruh jajaran Forkopimda, Polres, anggota DPRD, tokoh masyarakat, dan seluruh panitia yang telah menyukseskan acara tersebut.
“Alhamdulillah, berkat kebersamaan kita semua, malam ini Kukar bisa bersholawat dengan penuh kebahagiaan. Mudah-mudahan Allah membalas segala kebaikan dengan berlipat ganda,” ujarnya.
Sementara itu, Kapolres Kutai Kartanegara AKBP Khairul Basyar, turut memberikan pesan damai. Ia berharap kegiatan seperti ini mampu memperkuat kebersamaan masyarakat dan menjaga ketentraman daerah.
“Harapan saya, Kukar ini tetap damai, tetap sejuk. Dengan bersholawat, hati kita menjadi tenang, pikiran jernih, dan setiap masalah bisa diselesaikan dengan musyawarah,” ujarnya.
Kegiatan Kukar Bersholawat menjadi simbol sinergi spiritual antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat.
Tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga meneguhkan semangat religius dan persatuan untuk menjaga kedamaian di Bumi Kutai Kartanegara.(Silvi)
